6 MITOS PENDAKIAN GUNUNG AGUNG - BALI

Hi Guys, ga habis-habis nih kalau bicarain masalah travelling jika kamu ke Bali. Emang bener, Bali bukan hanya tentang pantai dan sebotol beer yang menemani. But bali have so many options jika kamu pengen liburan ke Bali.


Nah akhir-akhir ini makin banyak aja turis ala backpacker datang ke Bali, baik domestic ataupun mancanegara. Biasanya salah satu tujuan mereka adalah ingin melihat Bali dari ketinggian, yups Hiking !! Dataran tinggi Bali emang juara banget sih kata anak-anak travel dan salah satu cara untuk menikmatinya adalah dengan pendakian. Bali memiliki 3 Puncak Gunung, dan yang paling tertinggi adalah G.Agung. Eits ! pengen nyobak mendaki di Gunung Agung ? udah tau pantangan yang harus kalian patuhi ? oke kali ini tropiqube bakalan ngasi tau ke kalian semua “6 Mitos Pendakian Gunung Agung”.

Tidak seperti pendakian di tempat lain, Warga Bali sangat meyakini bahwa Gunung adalah sebagai tempat berstananya para dewa dan harus di jaga kesuciannya. Begitupun juga jika kita ingin menginjakan kaki ke puncak tertinggi di Pulau Bali ini.

1.  1. TIDAK DATANG BULAN


Bagi pendaki wanita yang ingin menikmati puncak Gunung Agung diwajibkan adalah mereka yang dalam keadaan suci atau tidak sedang datang bulan. Hal ini diilhami dari kepercayaan masyarakat bahwa Gunung merupakan tempat yang suci dan harus selalu bersih.

2. DILARANG MEMBAWA OLAHAN DARI DAGING SAPI



Ada kepercayaan masyarakat Hindu bahwa sapi merupakan hewan yang disakralkan. Dengan keyakinan tersebut maka mereka yang ingin mendaki Gunung Agung, dilarang membawa olahan apapun yang berbahan dari daging sapi. Selain itu, jika pendaki ingin membawa bekal makanan, disarankan untuk membawanya dalam jumlah yang genap.

3. DILARANG MEMAKAI PAKAIAN DENGAN WARNA TERTENTU



Warna merah dan hijau adalah warna yang dilarang untuk digunakan saat pendakian. Belum diketahui pasti sebab dari larangan ini. Akan tetapi, masyarakat meyakini bahwa warna merah dan hijau adalah warna yang digunakan oleh penjaga gaib di sana. Tidak hanya itu, saat mendaki juga tidak diperbolehkan menggunakan perhiasan emas saat mendaki.

4. WAJIB MELAKUKAN PERSEMBAHYANGAN 



     Di salah satu sisi dalam perjalanan menuju Gunung Agung yakni jalur pendakian dari Pura Besakih, terdapat sumber mata air suci yang sangat disucikan oleh warga di sana. Oleh karenanya, para pendaki yang ingin mengambil air dari sumber tersebut harus melakukan persembahyangan terlebih dulu. 

  5. MENGAJAK PEMANDU SETEMPAT SAAT MENUJU KE PUNCAK



 Pendakian menuju puncak Gunung Agung disarankan untuk ditemani para pemandu yang sudah disediakan oleh penduduk setempat. Hal ini disebabkan, jika terjadi kejadian buruk seperti kematian atau kecelakaan, para penduduk setempat harus mengadakan upacara Wana Kertih atau disebut juga sebagai upacara pembersihan.

6. DIALARANG MENDAKI SAAT BERKABUNG

Pengunjung dilarang mendaki ke puncak Gunung Agung apabila keadaannya tengah berkabung. Dalam artian, ada saudara atau keluarga terdekatnya sedang mengalami musibah kematian. Namun, bagi mereka yang nekat untuk mendaki, maka jangka waktu telah disediakan. Untuk aturan tersebut, biasanya waktu telah dihitung oleh pemangku setempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Survival di Gunung Bab Psikologi

Kesurupan di Gunung Cikuray Garut - CUPLIKAN Ekspedisi